Rabu, 21 Januari 2009

mengonsumsi makanan ber karbohidrat (untuk diabetesi)

Itu nasihat buat mereka yang terlalu banyak mengonsumsi makanan kaya karbohidrat (KH). Dengan cara itu, penolakan insulin bisa dihindari. Kemungkinan menderita kegemukan, diabetes tipe 2, hipertensi, dan serangan jantung pun bisa diperkecil.

Makan nasi tiga kali sehari sudah jadi kebiasaan orang kita. Namun, sadarkah bahwa perkembangan zaman membuat kita mengonsumsi KH dalam jumlah besar dan dengan frekuensi tinggi? Sekadar contoh, banyak yang bilang belum makan kalau belum makan nasi. Padahal dia sudah menyantap 1 - 2 potong roti isi daging, keju, atau pisang cokelat.

Bahkan, ada yang doyan ngemil di antara waktu makan nasi tiga kali sehari. Dalam tujuh jam kerja misalnya, seorang karyawan bisa mengonsumsi kopi atau teh tiga kali, masing-masing dengan gula sebanyak 3 - 4 sendok teh. Belum lagi makan camilan. Artinya, sepanjang hari mereka melahap berbagai makanan sumber KH.

Tak bisa disangkal, industri makanan seperti cake, cookies, permen, dan berbagai jenis soft drink membuat kita dengan mudah mengonsumsi camilan ber-KH tinggi itu. Belum lagi produk junk food yang hadir untuk memenuhi kebutuhan orang makan cepat lantaran desakan waktu.

Bila hal itu berlanjut, kita akan ketagihan untuk terus-menerus mengonsumsi KH dalam jumlah besar. Kita pun masuk dalam keadaan yang disebut adiksi KH, yakni suatu ketidakseimbangan fisik yang membuat kita terpaksa terus merasa lapar akan makanan sumber KH. Yang termasuk dalam makanan sumber KH di antaranya nasi, roti, cake, sereal, es krim, cokelat, potato chips, kentang, popcorn, dan berbagai makanan manis.

Apa bahayanya? Yang pasti, berbagai penyakit bisa muncul. Termasuk di dalamnya kuartet penyakit mematikan - obesitas, diabetes mellitus, hipertensi, dan penyakit jantung.

Celakanya, terapi atau pengobatannya sering memberatkan atau bahkan mustahil dijalankan oleh sebagian penderitanya. Untuk mengontrol tekanan darah tinggi misalnya, selain harus mengonsumsi obat hipertensi, seorang penderita juga mesti menjalani modifikasi gaya hidup berupa diet dan olahraga.

Ia kudu menjalani diet dengan membatasi asupan lemak, kalori, dan garam. Ini yang sering membuat penderita berjuang keras mengubah pola makannya dan frustrasi karena tubuh mereka tak henti-hentinya menuntut makan. Akhirnya, ia gagal menjalaninya.

Namun, jangan khawatir. Para dokter dan ilmuwan menemukan bahwa hiperinsulinemi (kelebihan kadar insulin dalam darah) dan resistensi insulin (penolakan tubuh atas aksi hormon insulin) bertanggung jawab atas perkembangan penyakit-penyakit itu. American Heart Association pernah menyatakan, kadar insulin yang tinggi telah menjadi penanda adanya risiko serangan jantung.

Dengan adanya pengetahuan baru ini, metode pencegahan dan perbaikan kondisi penderita penyakit obesitas, diabetes mellitus, hipertensi, dan penyakit jantung berubah sama sekali. Kini penderita tidak perlu menjalani program diet memberatkan. Pada dasarnya program baru itu bertujuan mengontrol kadar insulin dalam darah. Anda dapat makan sebanyak Anda suka, karena jumlah kalori yang dikonsumsi tidak berarti berkaitan dengan penambahan bobot badan. Yang penting, apa yang dimakan dan bagaimana cara memakannya.

“Jenuh” insulin
Begini ceritanya. Tubuh kita memiliki keseimbangan hormonal untuk mengatur metabolisme. Energi dari makanan di dalam tubuh akan diubah menjadi gula darah. Untuk menyimpan gula itu sebagai cadangan energi, hadirlah hormon insulin. Sementara hormon glukagon berperan “memakai” atau membakar gula itu menjadi energi.

Di kala terjadi kelangkaan makanan atau kelaparan berkepanjangan, insulin meningkat perannya. Dalam kondisi itu energi sebisa mungkin dihemat. Hormon inilah yang membuat orang primitif bertahan hidup di zaman yang tidak mudah mendapatkan makanan. Sebaliknya, di zaman serba mudah memperoleh makanan, insulin justru membuat kita terbunuh.

Jika mengonsumsi makanan sumber KH, kadar insulin darah kita meningkat. Bahkan, peningkatan itu sudah berlangsung sejak melihat, mengecap, atau memikirkan makanan itu. Ini fase pertama gejala resistensi insulin.

Bila kondisi dalam fase pertama berlanjut, sel-sel organ tubuh bakal “jenuh” dengan insulin. Sel-sel, terutama di hati dan otot, memblok insulin sehingga insulin dan gula darah yang masuk ke dalam organ itu berkurang. Akibatnya, si insulin menuju ke jaringan lemak. Tabungan lemak kita pun menjadi bertumpuk dan obesitas mulai menampakkan diri. Tahapan ini dinamakan fase kedua resistensi insulin.

Pada fase ini kelainan-kelainan mulai muncul, seperti peningkatan tekanan darah dan kandungan kolesterol darah. Akibatnya, pembuluh darah menjadi kaku dan menyempit. Istilah medisnya, arterosklerosis. Bila terjadi pada pembuluh darah jantung, pintu masuk penyakit jantung koroner pun terbuka lebar.

Seandainya fase kedua terus berlanjut, sejumlah organ kita mengalami kekurangan gula (hipoglikemi). Organ paling peka terhadap kondisi ini adalah otak. Kalau pasokan gula untuk sel-sel otak tidak cukup, muncullah gejala berupa perubahan mood yang membuat kita irritable, kelelahan, tak mampu berkonsentrasi, depresi, dan sakit kepala.

Untuk mengatasinya tubuh akan semakin keras mencari gula. Kita pun dibuat sedemikian rupa untuk harus mengonsumsi makanan sumber KH. Konsumsi KH kita semakin tak terkontrol. Kita pun masuk ke fase ketiga resistensi insulin. Pada fase ini tekanan darah dan proses arterosklerosis semakin meningkat.

Begitu lemak menjadi “jenuh” insulin, kita memasuki fase keempat. Insulin dan gula darah tidak lagi bisa disalurkan ke mana-mana. Keduanya terjebak dalam peredaran darah. Maka terjadilah diabetes tipe 2 - diabetes yang didapat setelah dewasa. Saat ini tekanan darah sulit dikontrol dan arterosklerosis memasuki tahap lanjut. Serangan jantung tinggal menunggu waktu.

Insulin menaikkan tekanan darah melalui dua cara. Pertama, mempengaruhi secara langsung sistem saraf simpatis yang langsung meningkatkan kerja jantung. Kedua, dengan menahan natrium dan air dalam darah sehingga volume darah meningkat, yang akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Ketiga, arterosklerosis membuat pembuluh darah menyempit sehingga tekanan yang dibutuhkan untuk mengalirkan darah lebih tinggi. Jadi, insulin bertanggung jawab terhadap kasus-kasus hipertensi primer.

Karena insulin merupakan pintu menuju sejumlah penyakit tadi, maka insulin pulalah yang menjadi kunci pemecahannya. Mencegah resistensi insulin dengan menjalani gaya hidup yang dapat mengontrol kadar insulin perlu dilakukan untuk membebaskan diri dari empat penyakit yang disebut di muka.

Utamakan rendah KH
Hal pertama yang perlu dilakukan untuk menggempur resistensi insulin yaitu membebaskan diri dari adiksi KH. Caranya, mengurangi jumlah KH dan mengimbangi makanan tinggi KH dengan makanan ber-KH rendah dalam komposisi menu makanan.

Dalam sebuah program jantung sehat untuk orang teradiksi KH, dr. Richard Heller dan dr. Rachel Heller menganjurkan agar makanan sumber KH dikonsumsi sekali dalam jadwal makan kita sehari-hari. Itu pun tidak hanya berisi makanan sumber KH, melainkan diimbangi juga dengan protein dan sayuran yang ber-KH rendah dalam porsi yang sama besar.

Gampangnya, bagilah porsi makanan kita dalam tiga bagian yang sama besar; 1/3 bagian makanan sumber KH, 1/3 bagian makanan sumber protein ber-KH rendah, dan sisanya sayuran ber-KH rendah. Untuk jadwal makan lainnya dianjurkan mengonsumsi makanan rendah KH. Ngemil boleh saja, asalkan makanannya rendah KH.

Bagi orang Indonesia makanan sumber KH yang utama adalah nasi. Makanan sumber protein ber-KH rendah meliputi daging (ikan, sapi, ayam, dsb.), tempe, tahu, dll. Semua sayuran, di antaranya bayam dan kangkung, juga ber-KH rendah. Pada metode diet Heller kita dianjurkan makan nasi hanya satu kali sehari (umumnya kita makan tiga kali sehari), disertai makanan sumber protein dan sayur dengan perbandingan yang sama. Untuk jadwal makan lainnya kita boleh melahap makanan sumber protein dan sayuran sesuka kita, tetapi tanpa nasi!

Perlu diingat, buah merupakan bahan makanan yang mengandung fruktosa sehingga dapat pula menimbulkan peningkatan kadar insulin. Namun, bila buah dimakan sebagai buah utuh, fruktosa masih diimbangi oleh serat yang dikandung buah tersebut.

Lain cerita bila buah tersebut dijus. Pada buah yang dijus, seratnya sudah hancur sehingga tidak ada yang mengimbangi kehadiran fruktosa yang bisa merangsang peningkatan insulin. Berbagai buah tersebut, seperti apel, pisang, mangga, nenas, jeruk, dll., dianjurkan untuk dikonsumsi saat kita menyantap makanan ber-KH tinggi dan tidak dianjurkan dilakukan pada jadwal makan lain.

Makanan sumber KH sebaiknya dihabiskan sekaligus dalam waktu tidak lebih dari satu jam. Jadi, jangan dicicil! Misalnya, kita makan cake satu jam setelah kita makan nasi. Bila hal itu terjadi, maka tubuh kita akan dua kali melepaskan insulin dalam jumlah besar, sehingga kalau keseringan akan menimbulkan resistensi insulin.

Bagaimana dengan lemak?
Penelitian menunjukkan, tidak semua lemak berbahaya bagi tubuh. Lemak yang meningkatkan insulin darah adalah lemak jenuh. Misalnya mentega, margarin, minyak kelapa, santan, dsb. Bahan-bahan tersebut biasanya tersembunyi dalam cookies, crackers, dan french fries. Sebaliknya, lemak tidak jenuh tidak berbahaya bagi insulin. Contohnya, minyak ikan, minyak zaitun, kacang, jagung, dsb.

Kita juga tidak perlu lagi pusing-pusing menghitung jumlah kalori makanan yang kita konsumsi serta diteror diet rendah lemak dan diet rendah garam. Besarnya kalori yang kita makan tidak menentukan berat tubuh kita.

Salah satu buktinya, Miller dan P. Mumford mencatat pada 1967 beberapa orang mengonsumsi 8.000 - 10.000 Kalori per minggu, tingkat konsumsi yang lebih tinggi dari umumnya, tetapi mereka masih bisa kehilangan bobot badannya. Sebaliknya, ada pula orang yang makan jauh lebih sedikit dari umumnya, tapi bobot tubuhnya bertambah terus. Jadi, tidak penting berapa banyak Anda makan, tetapi perhatikan apa yang dimakan dan cara memakannya.

Diet yang benar meletakkan dasar yang kokoh untuk menjalani program-program berikutnya. Untuk menambah vitalitas, kita bisa melakukan olaraga. Yang tak kalah penting, mengelola stres sehari-hari. Kurang aktif secara fisik dan stres bisa pula memicu insulin.

Khusus bagi kaum perempuan, perlu juga memberi perhatian pada berbagai kontrasepsi hormonal. Substansi kontrasepsi tersebut juga dapat merangsang produksi insulin.

Oleh : Gsianturi

Sumber:
http://www.gizi.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar